How To Love? - Cerpen

Title: How To Love
Genre: romance, comedy
Rate: 17+
Penilis : Riska Primayanti & Excel Muhadzdzib Kelana



      Pagi selalu membuat setiap orang terkesima dan mentari selalu punya cara sendiri untuk menyapa milyaran makhluk dibumi. Namun, pagi juga mendatangkan kisah-kisah yang baru yang tidak bisa di tebak oleh siapapu. Seperti kisah empat mahasiswa ini.   

      “sebuah sihir, dipagi hari aku masih bisa melihat salah satu keindahan sang ratu malam, Bintang yang bercahaya lebih indah dari apapun” rayuan seorang Edward yang sukar dihindari merujuk ke salah satu gadis yang sedang duduk ditempat favorit dikampus. Tak heran pria yang mengambil jurusan olah raga ini mendapat julukan sebagai bucin dan si raja gombal karena prilakunya suka merayu cewe disetiap sudut belahan bumi ini namun selalu takut untuk menghadapi pacarnya.

“dasar bucin, masih pagi kaya gini udah ngegembel!” dengus Cee yang berada tepat disebelah Bintang dengan air muka seperti ingin menginjak kepala seseorang.
“ngegombal Cee.. bukan ngegembel” komentar Bintang sembari tertawa kecil tanpa menghentikan aktivitas jarinya yang sedari tadi menari diatas keyboard laptop miliknya.
“kids zaman now Bin..” balas Cee.
“lu udah bau lumut, kaga bau kencur lagi, masih ngaku-ngaku kids. Dan lagi gue ngegombalin si Bintang kok lu yang sewot? lu cemburu?” ketus Edward
“ogah!! Tapi kalau digombalin sama pacar gue sih gue seneng, rasanya kaya melayang diudara sampai keluar angkasa diantara bintang-bintang..”
“jangan lupa pakai Soviet Sk-1 karena diluar angkasa itu oksigen sangat minim dan juga tekanan diluar tubuh sangat rendah” potong seorang pria yang baru saja muncul dan bergabung dengan mereka, berhasil mengubah suasana hati Cee yang hampir mencapai puncak dari ungkapan kebanggaan hatinya.
“Affaaaa.. jangan hancurin moment please” rengek Cee kepada pria pemilik nama Affa yang merupakan kekasih Bintang.
Edward dan Bintang hanya tertawa dengan tingkah polos seorang affa pemilik otak jenius yang tidak paham akan rayuan-rayuan maut dan berlaku romantis kepada wanita.
“gue suka nih sama Affa yang kaya begini. Kepintaran lu lumayan juga bro ngancurin hayalan cewe” puji Edward yang lebih menjurus ke ledekan.
“nah kebetulan lu disini. Ikut gue bro, lagi ada urusan sama dunia yang fana ini dibidang olah raga yang gue cintai setulus cinta gue ke Cee”
*Plakkk* satu pukulan dari tangan Cee  berhasil mendarat mulus dikepala Edward
“ngegombalin cewe lu  nomor satu, tapi takut sama pacar sendiri hadeehh” ledek Cee
Edward hanya mengelus kepalanya tanpa berkomentar dengan alasan tidak mau mendapat sambel pedas dari Cee, beranjak dari posisinya sambil menyeret kaki Affa pergi dari tempat itu sampai tak terlihat ditelan jarak pandang.

“lu kok betah banget sih pacaran sama Affa? Pinter sih, jenius sih, IP-nya 4 sih tapi ilmunya kaga ada buat bahagiain cewenya” jelas Cee namun tidak mendapat komentar apapun dari Bintang
“kapan lu pernah dikasih sesuatu? Cari pacar tuh kaya pacar gue, pagi dapat kata-kata romantis, dikasih kejutan, bunga, coklat, dinner romantis..” lanjutnya
“kapan ya.. gue lupa” jawab Bintang menghentikan aktivitasnya
“sayang banget lu kaga nikmatin masa-masa pacaran lu dengan baik. Ckckck. Nah habis ini gue diajakin jalan sama pacar gue, pasti dikasih sesuatu lagi” lanjut Cee tak henti membanggakan hubungannya
“nah itu dia” sentak Cee dengan pandangan mengarah kepada seorang pria dibawah pohon toge, eh maksudnya pohon cemara.
“ya terserah lu sih kalau masih mau pertahanin yang kaya begitu, gue pergi ya Bin” Cee beranjak dari posisinya sembari memasukkan barangnya kedalam tas lalu pergi menghampiri kekasihnya
“hufffht” Bintang menghela nafas panjang memperhatikan langkah Cee
Bintang merogoh sakunya dan menemukan ponsel yang ia cari
“affa. Nanti kita makan siang diluar yuk” pesan terkirim kepada sang kekasih
***

     Pandangan Bintang menembus jauh keluar jendela kaca tempat dia duduk, dengan tangan yang menopang dagu, mata yang mengarah pada jalanan tempat orang berlalu lalang.
“maaf sayang aku telat” suara Affa membuyarkan lamunan Bintang. Menggeser kursi dan membuat sedikit ruang untuk dia duduk sembari meletakkan buku yang ia bawa. Suasana hening, Affa mulai membuka buku Anatomi yang ia bawa. Memperhatikan kegiatan Affa saat ini membuat perkataan Cee terngiang diotak Bintang. Namun dia memilih untuk diam menunggu makanan yang ia pesan sebelum Affa tiba. Tangannya meraih ponsel didalam tas, ya seperti anak zaman sekarang yang tidak bisa lepas memandang sosmed. Terlihat beberapa foto yang diunggah oleh Cee diakun Instagramnya beberapa menit yang lalu bersama pacarnya
“liat deh si Cee sama pacarnya lagi jalan, mereka anniv loh… ihh lucu banget boneka yang pacar kasih. Kita sebentar lagi anniv juga kan ya” bintang mulai mengeluarkan jurus kode maut seorang wanita. Diliriknya Affa hanya diam tidak menghiraukan perkataannya
“so sweet banget mereka makannya suap-suapan” lanjut bintang sambil melirik kearah Affa  yang sibuk berpacaran dengan bukunya
“hubungan kaya gitu harus banget ya diumbar-umbar. Kamu mau kaya gitu? Gak malu?” Affa mulai berkicau
“kenapa harus malu, kan sama pacar sendiri”
“justru karena sama pacar jangan begitu, kalau sama suami boleh aja bangga” Affa masih tetap saja fokus pada bukunya.
“buat apa juga kan diumbar umbar begitu. Kalau dalam istilah anak zaman sekarang sih itu alay” lanjutnya.
“ya apa salahnya coba suapin pacar, kasih pacar hadiah, bunga..” umpat Bintang
“iya gak salah sayang, tapi jangan diumbar-umbar begitulah”
“terserah!”
“iya..” jawab Affa dengan santai tanpa merasa bersalah yang mengakibatkan emosi didalam diri Bintang meningkat.
Pelayan menghampiri meja tempat mereka berada, menyinggahkan beberapa makanan dan minuman yang dipesan oleh Bintang. Bintang langsung menyantap makanannya dengan rasa jengkel yang tidak dapat ia sembunyikan.
“kok kaya makan hati ya”umpat Bintang dalam gumamannya
“hm? Kamu mau makan hati? Biar aku pesenin”
“diam deh. Aku gak bilang apa-apa” dengan nada dan tatapan kesal Bintang langsung meletakkan sendok dan garpu yang dia pegang diatas piring makanan didepannya.
“bisa gak bukunya diletakkin dulu?! Kenapa harus bawa buku sih ketempat kaya gini? Kamu lagi sama aku tapi fokusnya ke buku.. yaudah pacaran sama buku aja sana!” gerutu Bintang
“besok aku ada middle test sayang, jadi aku harus belajar.” jawabnya santai dengan wajah polos tanpa dosa bak malaikat sembari menutup dengan perlahan buku yang ia pegang namun matanya mengikuti arah buku yang ia tutup dan masih mencoba untuk membaca. Tentu saja rasa kesal Bintang semakin menjadi
“Affaaa… kamu bisa gak sih ngertiin aku? Aku pengen kamu sama kaya orang lain. Aku pengen diperlakukan  kaya orang lain diperlakukan sama pacarnya. Tapi kamu… ahh kapan kamu ngerayu aku? Kapan kamu kasih aku kejutan? Gak pernah fa”
“kamu kenapa? Bukannya hubungan kita baik-baik aja? Kamu juga tau kalau aku sayang sama kamu. Apa aku kurang pembuktian untuk itu?”
“iya!” jawab bintang singkat padat dan jelas.
“aku gak mau kamu itu sama kaya orang lain. Terpengaruh sama hubungan orang lain” jelas Affa
“apa salahnya kamu coba? Apa yang kamu rasain sama hubungan kaya gini? Gak ada manis-manisnya tau. Aku iri sama  orang lain yang punya masa-masa pacaran yang indah” nada suara Bintang semakin melemah ia tertunduk begitu juga dengan Affa
“ehem, kamu ada kelas lagi kan, habisin makanannya. Biar aku anterin, nanti pulangnya aku jemput. Hari ini kebetulan aku kosong”
“hm”
***

     Bukannya tidak peka, tapi Affa mengerti jelas maksud pembicaraan Bintang saat makan siang tadi. Bagaimana lagi pria jenius itu pintar dalam segala hal namun tidak untuk merayu wanita. Satu-satunya makhluk astral yang bisa membantunya adalah Edward.
“gue mau beli bunga buat Bintang, temenin gue yuk, lu kan pinter kalau kaya begituan” jelas Affa
“sekarang?” jawab Edward.
“minggu lalu!!”
“waduh!!”
“ya sekaranglah bucin”
“duh kalau sekarang gue kaga bisa nih, gue ada mata kuliah mau praktek lempar hati eh lempar lembing. Tapi gue mau nemenin lu, udah gue bolos  aja, lu kan segalanya buat gue”
“sialan lu gay” gidik Affa
“jangan ikut, masuk aja sana.. jangan sampai bolos. Kalau lu ngotot ikut, gue putar, gue jilat, terus gue celupin lu didalam segelas susu hangat” lanjutnya
“hahaha ok ok bro”
Affa pun harus pergi sendiri ketoko bunga membeli sebuket bunga untuk gadis yang ia sayangi. Jarum pada arlojinya terus bergerak perdetiknya menunggu Bintang keluar dari gedung fakultasnya. Sebuket bunga ditangan pun sudah siap menanti kepemilikan barunya.
“aku  cape nih, langsung pulang aja ya” ucap bintang mendekat ke Affa
“aku punya sesuatu buat kamu”
*Taraaa*
Diberikannya lah sebuket bunga yang ia sembunyikan dibalik tubuhnya kepada Bintang. Perlahan dan tentu saja dengan wajah kebingungan Bintang menerima bunga tersebut
“ini buat apa ?” Tanya Bintang dengan penuh rasa kebingungan
“buat kamu lah, tadi katanya pengen dikasih bunga” jawabnya dengan senyuman yang ada manis-manisnya gitu
“ya iya tapi kan jangan kaya gini jugaaaa!!” komentar Bintang sangat kesal
“kamu gak pernah baca novel? Nonton drama? Bunga apa yang mereka kasih? Masa kamu kasih aku bunga melati, maksud kamu apa? Aku makhluk setengah hantu cantik gitu kamu suruh makan melati?” protesnya
“seharusnya kamu senang dong sayang aku kasih bunga melati, bunga ini kan bisa sebagai alat detoks untuk menghilangkan racun dan membersihkan tubuh, bisa juga untuk mengurangi depresi dan efek negatif lain dari stress, kamu protes mulu, marah-marah terus kaya lagi stress, gimana kalau kita buat teh melati aja? supaya kamu gak marah lagi” jawabnya sebagai mahasiswa kedokteran
“tau ah” Bintang langsung melangkahkan kakinya
“mau kemana sayang?” Tanya Affa
“ke kuburan!!” jawabnya ketus
“mau ngapain?” Tanya Affa kembali
“ya pulang lah arghh”
“hati-hati ya”
“tadi katanya kamu yang jemput! Kenapa aku disuruh pulang sendiri ihhh” gerutunya semakin kesal
“aku gak ada nyuruh kamu pulang sendiri kan?” jawabnya lagi tanpa hati-hati
“argghh Affa!! Pengen banget deh aku nikahin kamu terus aku elus-elus sambil aku jejelin dalaman kemulut kamu”
“yaudah yuk nikah” balasnya lagi dengan wajah polos melebihin wajah bayi itu
“huuuuuaaaaaaa!!!”
***

     Mereka memang ada janji malam ini, tapi sebelum pergi Affa ingin memperbaiki kesalahannya yang sudah ia perbuat kepada Bintang. Dan Edward peliharaan satu-satunya yang bisa menjadi tempatnya meminta sebutir rayuan.
“ada apa lu nelpon gue jam segini?” jawab Edward
“tadi sore gue udah buat Bintang marah besar ke gue, gue ngasih bunga melati dia malah murka sebesar-besarnya kaya kemarahan raja neptunus difilm spongebob” adunya.
“yaampun Affa sayangku, cintaku, anakku sayang.. lu kebanyakan nonton spongebob. Dimana-mana cowo tuh ngasih cewenya bunga mawar, spongebob juga kaga pernah bawa bunga melati sama bunga mawar karena di air itu bunga kaga tumbuh kunyuk”
“bunga teratai dong tumbuh di air” jawabnya lagi dengan kepolosan tiada tara itu yang membuat Edward ingin menghantamkan kepalanya ketempat ia bersemedi saat ini.
“ok Affa polos laut”
“kok laut?”
“kalau kali terlalu sempit untuk kepolosan lu itu. Gini ya, emang lu yang salah.. sekarang lu temuin Bintang, lu perbaikin apa yang bisa lu perbaikin, bautnya yg copot lah, ganti oli lah, apa ajaa”
“motor gue baik-baik aja kok” jawab Affa dengan sedikit bingunng.
“ebuset dah. Lu kaga motong Kambing ya sewaktu lu buat nama. Gini amat orangnya Affa ya lord”
“gue kaga pernah tanya sama emak gue. Gini deh lu kasih gue seekor rayuan lu, yang kira-kira bisa buat dia seneng”
“nah gue setuju tuh, lu kan kaga pernah ngegombal, sekalinya lu ngegombal pasti dia ngerasa..”
“udah kaga usah banyak bacot, cepat mana rayuannya” potong Affa
“gini, denger gue baik baik.. pertama lu tatap matanya dalam-dalam sedalam sumur Belanda dibelakang rumah lu, terus lu tanya begini, kamu tau gak bedanya kamu sama udang…”
*tut.tut.tut* panggilan terputus. Affa mencoba memanggil kembali kenomor Edward namun yang menjawab bukan lah Edward melainkan suara wanita menjengkelkan
“tekan 1 untuk panggilan diteruskan dengan biaya dibebankan kepada penerima panggilan karena sisa pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini” Affa pun mengikuti saran wanita gaib tersebut.
“permintaan anda sedang diproses mohon menunggu, anda akan menerima panggilan jika disetujui” jawab makhluk tanpa wujud itu dengan nada sok menggemaskan
Tidak lama kemudian ponsel Affa mendapat pesan singkat dari pengirim pesan setia nya.
“maaf nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan dikarenakan sedang sibuk atau tidak dapat dihubungi”
Membaca pesan itu membuat affa mulai memutar hapenya, menjilat dan mencelupkannya kedalam comberan lalu ditelan hidup-hidup, sang hape pun tamat.
***

     Dibawah bentangan langit luas yang ditaburi bintang-bintang berkilauan Affa menunggu sang ratu  keluar dari istananya.
“udah selesai, yuk langsung jalan” ucap Bintang
“aku belum pamit ijin sama ibu kamu”
“ibu lagi gak dirumah, lagian tadi aku juga udah bilang mau pergi sama kamu” jelas Bintang
“hmm gitu yaa” Affa sedikit mengangguk. Lalu menatap mata Bintang dengan intens. Membuat Bintang merasa aneh dengan tingkah Affa.
“sumur Belanda dibelakang rumah sedalam apa ya” gumam Affa
“sumur Belanda?” respon Bintang kebingungan yang medengar gumaman Affa
“ah gak gak.. aku gak bilang apa-apa” Affa cengar cengir masih menatap mata Bintang
“kamu kenapa sih? Kita jadi pergi kan..”
“kamu tau gak bedanya kamu sama udang?” Affa mulai mengeluarkan kata-kata yang diucapkan Edward
“kamu apaan sih” jawab Bintang
“Udah jawab aja gak tau” pinta Affa
“iya iya, gak tau, emang apa?” jawab Bintang mengerutkan dahinya
“bedanya kamu sama udang itu, kalau udang memiliki struktur tubuh bersegmen atau beruas dan terdiri atas kepala dan dada menjadi satu juga perut, sedangkan kamu itu memiliki struktur tubuh bersel, memiliki  jaringan yang fungsinya sama dengan sel, organ dan beberapa system susunan alat tubuh dengan fungsi tertentu” jelasnya bak dosen yang memberi penjelasan singkat.
“apaan sih. Aku kira kamu mau ngegombalin aku. Tau-taunya buka kelas disini. Aku gak mood mau pergi. Aku tau kamu ada middle test tapi jangan bawa-bawa pelajaran kamu sewaktu sama aku dong. Aku tau kamu pintar. Kamu juga suka umbar-umbar kepintaran kamu.. aku gak peduli sekarang kamu mau ngapain, mau pulang, mau baca buku. Aku gak mau bicara sama kamu” Bintang terlihat sangat kesal berjalan dengan cepat kembali masuk kedalam rumahnya
“Bintang..” panggil Affa namun Bintang tak menghiraukannya lagi
***

     Keesokan harinya, Bintang masih tidak mau berbicara dengan Affa. Setiap kali Affa mencoba berbicara padanya Bintang selalu mengelak, bahkan ia tak mau melihat wajah Affa yang menggemaskan dan sedikit menjijikkan itu lagi.
“emang apasih yang lu bilang ke Bintang sampai dia semarah itu?” selidik Edward
“gue udah ikutin apa yang lu bilang, gue udah tanya apa bedanya dia sama udang” jelas Affa
“gue bilang, udang itu bersegmen sedangkan dia itu bersel” lanjutnya
“seketika jantung gue berhenti berdetak.. wajarlah bintang marah kaya gitu, seharusnya jawabannya itu kalau udang dibalik bakwan kalau kamu dibalik hatiku kunyuk, kurang banyak makan cabe lu” balas Edward.
“inginku berkata kasar” sambung Cee yang muncul dari kolong meja.
“lu kebangetan deh ya jadi manusia setengah ayam. Sebelum lu netas lu dikasih apa sih. Mau bilang lu bego tapi IP lu 4, kaga habis pikir gue” lanjutnya mengumpat kepada Affa
“bucin, kayanya dia peru dipoles pakai selai coklat supaya ada manis-manisnya”  tegas Cee.
“senyum aja gue manis kok, kaga perlu pakai selai coklat segala” balas Affa
*gdbukbakbukbak* gumpalan tangan Cee berhasil menghilangkan wajah manis Affa
“eh bocah, kalau kaga salah hari ini lu anniv 1 tahun sama Bintang, lu ingetkan?” tanya Cee
“eh apa iya?” jawab Affa sambil berusaha mengingat.
*gdbukbakbukbak* yah pukulan kedua berhasil menggeser sedikit otak Affa yang menjengkelkan itu.
“iya hari ini tepat satu tahun lu jadian sama Bintang, satu tahun yang lalu lu itu nembak dia pakai rumus kalkulus, limit. Yang lu bilang hasil limitnya itu sama kaya cinta lu kedia yaitu tak hingga” perjelas Edward sembari menyediakan kantung muntah untuk Cee.
“oh iya. Duh gue perlu buat kejutan nih, sekalian gue mau memperjelas semuanya” usul Affa dengan pintar kali ini.
“biar gue dan bucin yang bantu” usul Cee merangkul Edward yang lebih menjurus motif pembunuhan dengan rangkulan yang hampir menghilangkan nyawa pria malang pemilik leher yang ia jepit.
“cewe jadi-jadian, lu lepasin gue. Uhuk uhuk ntar cewe gue liat bisa tamat riwayat gue” pinta Edward mencoba menjauhkan tangan sekeras baja itu

*misi pun dimulai*

“nah ini dia ruang belajar gue” tunjuk Cee dengan ruangan yang dipenuhi dengan hardware lengkap seorang hacker.
“gue punya beberapa informasi perangkat lunak milik Bintang..”                                   
“udah sana lu tinggalin gue aja, gue paham kok. Gue butuh peralatan lu ini aja” potong Affa sok pinter.
“oh iya gue lupa si jenius Affa bisa segalanya selain ngurusin cewe” ledek Cee membiarkan Affa mengerjakan urusannya sebagai hacker sesaat.
Sementara itu Cee  pergi untuk membelikan hadiah yang akan diberikan untuk Bintang, sedangkan Edward tengah mengurus tempat untuk mereka berdua.
Selesai membeli hadiah, Cee langsung saja memberikan hadiah itu kepada Bintang, ini salah satu rencana dalam misi mereka.
“dari Affa? Kaga salah lu?” respon Bintang saat diberi hadiah tersebut
“iya, buka aja” jawab Cee dengan anggukan.
“nanti aja deh, paling dikasih buku lagi, dari dulu setiap bulannya dikasih buku juga..” balas Bintang pasrah sembari menyimpan hadiah itu kedalam tasnya
“tadi sih si Affa mau ngasih itu langsung ke elu, tapi lu nya kaga mau bicara sama dia katanya”
“emang, abis nyebelin sih, gue sayang tapi gue kesel  sama perlakuan dia Cee. Apa harusnya gue ikutin aja saran lu, tapi gue kaga mau lepasin dia”nadanya melemah
“eh jangan Bin, hm maaf, mungkin salah gue juga lu ngerasa kaya gini, lu harus ingat orang yang perlu lu pertahanin orang yang mau berjuang. Jangan berpikir untuk lepasin sijenius bersebrangan dengan bego itu” Cee mencoba menghapuskan wajah sedih Bintang memberikan pelukan penguat semangat  kepadanya.
“gue mau pulang aja Cee, gue mau kelarin tugas makalah gue aja, dah”pamit Bintang mengakhiri pelukan dan kembali kerumahnya.
Sesampainya dirumah, Bintang langsung merebahkan tubuh mungilnya diatas kasur. Menatap langit-langit kamarnya
“kangen juga sama Affa, kalau diingat-ingat apa aja yang terjadi kemaren lucu sih, kalau kata Cee sih, sijenius bersebrangan dengan bego”gumam Bintang menahan geli tawanya. Kembali ia duduk dan membuka laptopnya dengan niat melanjutkan mengerjakan makalahnya.
Namun sesuatu terjadi dengan laptopnya, layar yang berdisko dengan meriah berlangsung selama beberapa menit yang membuatnya kebingungan sebelum sebuah emoticon love muncul dari screen laptopnya. Membuat dahi Bintang berkerut pertanda otaknya sedang dalam proses penyelidikan apa yang terjadi.

     Tak lama screennya berubah menjadi gift lucu sepasang kekasih yang berciuman, lalu muncul tulisan “Happy Anniversary” seketika senyuman terlukis dibibir  manis Bintang. Lalu muncullah sebuah alamat tempat dimana Affa ingin mengajaknya berkencan malam ini. Sontak Bintang menarik tasnya yang tidak jauh dari posisinya sekarang dan membuka hadiah dari Affa, tidak seperti dugaannya, yang ia dapatkan bukanlah buku seperti yang ia pikirkan, melainkan gaun berwana gold dengan kerlap kerlip seperti bintang saat terkena lampu atau cahaya lainnya. Pipinya memerah menahan rasa bahagianya. tak sabar menunggu malam tiba.
Waktu menunjukkan pukul 7 dan Bintang sudah lengkap dengan riasan yang indah dan menawan, wajah cantiknya dengan gaun yang ia kenakan menjadikannya ratu malam ini. Cee menyelidiki gerak-gerik Bintang keperjalanan menuju alamat yang diberikan Affa.
Sedangkan Edward menunggu Affa difakultas Kedokteran, terlihat Affa berlari dengan sangat cepat dan terburu-buru menghampiri Edward.
“lama amat lu” protes Edward
“Middle test gue baru selesai bro. Bintang udah pergi?”
“sebentar gue telpon Cee dulu..” Edward merogoh sakunya dan mencoba menghubungi Cee mata-mata mereka
“dimana posisi lu sekarang?” tanya Edward.
“Bintang udah sampe tuh, eh gila lu bucin sialan yang lebih bau dari bangke! Kaga ada tempat lain apa? Gue liat ekspresi siBintang tuh kesel sedih juga. Cepat lu kesini. Biar gue gorok abis leher lu, gue cincang-cincang gue jadiin makanan ikan cupang” umpat Cee.
“dasar lu mafia” umpat Edward kembali sebelum mematikan ponselnya.
“bintang udah sampe bro, cepat naik kita langsung menuju alamat. Ganti baju disana aja nanti”
Dengan terburu-buru tak ingin Bintang menunggu lebih lama Edward langsung mengantar Affa menuju alamat dimana ia membuat kejutan makan malam untuk mereka berdua.
“duh Affa dimana sih.. beneran gak nih, apa gue dipermainkan ya” Bintang mulai berpikir negative
*drtttt.drtttt*ponsel yang berada ditangannya bergetar, dalam pikirannya ini pasti Affa. Dan langsung melihat pemberitahuan yang masuk
“Mob*le Le*en*s [Peti Gratis] Cepat! Login dan ambil petinya. Jangan sampai terlewat!”
Ingin Bintang berkata kasar dan kembali menunggu melirik sana sini. Dari kejauhan Cee masih memperhatikan gerak-gerik Bintang. Tak lama Edward dan Affa sampai ditempat.
“Gue udah rapi kan?” tanya Affa kepada Cee setelah mengganti pakaiannya sebelum sampai ditempat. Mata Affa mencari-cari keberadaan Bintang.
“iya udah rapi” komentar Cee.
“eh sialan, kenapa disini?” tanya Affa terkejut melihat tempat yang dipilih oleh Edward
“yang ada si Bintang makin marah kalau begini, mana ada orang dinner ngerayain anniv dirumah sakit jiwa Edward, udah ada ranjau dimulut bintang nih kalau kaya gini ceritanya” lanjutnya.
“direstoran udah biasa, sekali-kali antimaenstream dong bro” balas Edward
“otak bucin rancu” jitak Cee.
“udah sana diatas gedung rumah sakit jiwa itu udah gue siapin segalanya, dan ini kata yang perlu lu jelasin” ucap Edward berbisik-bisik dengan Affa
“oke-oke. Yaudah gue pergi dulu, sebelum ranjau Bintang meledak” Affa sedikit berlari menemui Bintang.
“sukses ya Faa, bangke satu ini biar gue yang urus” teriak Cee dibalas acungan jempol oleh Affa
Dan sialnya Cee tidak main-main atas perkataanya, kembali lagi kita ulang sebuah suara tebaik dan menghenimkan cipta.
*gdbukbakbukbak*
“bintang..” Affa memperlahan langkahnya saat hampir mendekati Bintang
Dilihatnya Bintang dengan wajah sedih dan kesal bercampur menjadi satu. Membuat Affa tak berani untuk mengeluarkan ekspresi manisnya saat ini.
“maaf” kata itu keluar begitu saja dari mulut Affa tanda penyesalannya. Ia merasa betapa bodohnya dia saat ini dihadapan Bintang. Perlahan Bintang menggenggam tangan Affa dan berbicara dengan lembut.
“kali ini aku gak akan protes” menghadiahkan sebuah senyuman untuk Affa.
“aku gak tau harus gimana lagi sama kamu. Jujur aku gak bisa jadi seperti apa yang kamu mau, tapi aku akan terus coba Bintang”
“aku emang gak ngerti caranya ngegombal, ngerayu, kasih hadiah yang pantas untuk orang yang aku sayang. Aku ngerasa gila kalau kamu marah dan diamin aku. Aku cari-cari dokter yang bisa sembuhin kegilaan ini, tapi ternyata cuma kamu yang bisa..” lanjutnya
“apa karena itu kamu memilih tempat ini untuk dinner? Mau nunjukkin sama dokter itu kalau aku obatnya?” kekeh Bintang dan dibalas dengan senyuman yang tidak bisa ditahan oleh Affa saat melihat tawa sang kekasih.
“aku juga minta maaf, gak seharusnya aku nuntut kamu jadi kaya orang lain, gak seharusnya aku iri sama hubungan orang lain juga. Kita bisa menunjukkan cinta dengan cara kita sendiri, bagaimana cara mencintai, cuma seseorang dalam hubungan itu yang bisa melakukannya”lanjut Bintang tanpa menghentikan senyuman diwajahnya
“hmm ayo kita lihat kejutan selanjutnya” Affa menarik tangan Bintang yang sedari tadi menggenggamnya. Memasuki lorong-lorong rumah sakit jiwa dengan sensasi pacaran yang tidak pernah dilakukan orang lain, menaiki anak tangga menuju atas gedung tanpa melepas genggaman. Dan…
Mata Bintang tidak berkedip memandang apa yang ada disana, begitu juga dengan Affa. Sibangke benar-benar bersungguh-sungguh melakukan bagiannya. Sungguh keindahan malam kota yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Tempat ini lokasi terbaik memandang keindahan anugrah Tuhan. Meja yang dihiasi dengan bunga mawar merah, hiasan lampu yang berkelap kelip, beberapa foto Affa dan Bintang yang tanpa sepengetahuan mereka diambil oleh Edward, hamparan langit penuh bintang, beberapa makanan, instrument dengan melodi mesra menambah perfect nya dinner mereka malam ini, dan juga dua cangkir teh melati yang. membuat Bintang tertawa lepas. Sebuah tempat yang sangat sempurna walaupun dibawahnya merupakan rumah sakit jiwa.
Bintang menatap Affa dengan penuh cinta, tidak dapat berhenti tersenyum kepadanya sampai hatinya bergetar dan menjatuhkan butiran air dari pelupuk matanya, melihat Bintang meneteskan air matanya, Affa langsung memberinya pelukan hangat.
“I love you” gumam Bintang lemah.
“I love you too, aku suka gimana Bintang nya Affa yang sesungguhnya, seperti tujuan awal kita, mencintai seperti apa adanya, jangan terpengaruh sama orang lain lagi hmm? Hubungan kita, kita yang jalani, aku juga bisa kasih apa yang kamu mau, tapi dengan cara aku sendiri sayang” Affa mengelus lembut rambut Bintang dan dibalas anggukan oleh Bintang
“tumben bisa bicara begitu” ledek Bintang menghapus air yang mencoba merusak riasan wajahnya.
Kembali Affa memamerkan senyuman mautnya itu dan perlahan memberikan ciuman dikening Bintang. Semilir angin diatas gedung membuat anak rambut Bintang menutupi wajahnya, Affa mencoba menyingkirkan rambut yang menghalanginya melihat wajah ratu yang dihadapannya saat ini. Bintang terlihat malu-malu dan pipinya dipenuhi dengan rona merah. Gemas dengan ekspresi sang kekasih, Affa menarik pinggang Bintang, dan memberi ciuman mesra dibibir Bintang.
Sementara itu pergulatan dibawa sana masih berlangsung. Yah bagaimana lagi si wanita dengan kekuatan baja itu tidak mau menghentikan kegiatannya menghancurkan Edward.
“Semoga kalian mendapatkan hikmah dari cerita ini anak muda” Edward dengan wajah babak belurnya melambaikan tangan ke kamera sebelum dikejar oleh Cee lagi.

~The End~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani tidak istimewa itu baik.

Menemukan Mu - Puisi