Menjadi Dewasa yang Membosankan? - Pemikiran
Sejak kecil kita selalu di jejali dengan banyak hal. Pada waktu kecil dulu kita salalu ingin tahu apa yang orang-orang dewasa lakukan. Banyak pertanyaan yang terlontarkan dari mulut kita, tak jarang juga kita tidak puas dengan jawaban dari orang-orang dewasa itu.
Dulu, saat adik pertamaku baru lahir. Aku pernah bertanya pada ibuku, dari mana adikku itu keluar?. Lantas dengan mudah ibuku menjawab "adik mu keluar dari mulut." aku hanya diam dan mengiyakan. Tak berapa lama pertanyaan muncul lagi, apakah lubang mulut muat untuk keluar adikku itu?. Ibuku hanya tersenyum kemudian menjawab "saat keluar adikmu itu tidak segini" sambil melihat kearah bayi yang baru datang kedunia itu. "karna adikmu terkena angin makanya bisa kaya gini." jawab ibuku dengan tersenyum. Aku hanya diam dan mengamini. Dalam benakku, pertanyaan itu masih berkeliaran.
"Menjadi anak kecil adalah kesenangan terhebat yang tidak pernah bisa di ulang dua kali"
Seiring berjalannya waktu beberapa pertayaan mulai mendapat titik terangnya. Ketika pelajaran biologi mulai dipelajari, semua yang mendengarkan argumenku tentang bayi yang keluar dari dalam mulut. mereka hanya tertawa termasuk guruku. Setelah dijelaskan oleh guruku, aku baru tahu ibuku berbohong tentang bayi yang keluar dari mulut itu. Lantas aku hanya tersenyum dan tertawa juga mengingat keluguan ku saat itu.
Hidup terasa berjalan sangat cepat saat usia kita telah 17 tahun. Ketika kita mulai bertanggung jawab atas apa saja yang kita perbuat. Bahkan kita sudah disibukan mengurus KTP hingga membuat SIM. Memilih perguruan tinggi pun tak jarang memusingkan kita. Apapun perlu di perhitungkan. Tak jarang beberapa orang tua juga menentukan perguruan tinggi mana yang harus si anak masuki. Tak hanya itu, beberapa orang tua bahkan juga menetukan jurusan mana yang harus si anak masuki. Sugguh kebebasan keputusan anak mulai dipertanyakann.
Saat kita menjadi dewasa, semua seakan telah berubah. Semua hanya tentang perhitungan-perhitungan yang memuakkan. Tentang tagihan yang terlewat batas. Tentang menunggu tunjangan di awal bulan. Hingga dipusingkan dengan kredit yang tak kunjung terselesaikan. Semua seakan abu-abu.
Ketika kita kembali mengingat dan membuka album-album lama. Kita mulai melihat lembaran demi lembaran. Ada sosok anak kecil yang telah lama hilang. Terus kau pandangi lembar photo itu. Samar-samar pikiran mulai membuka ruang ingatan yang telah lama tidak di kunjungi. Ketika kau tahu sosok anak itu adalah kau yang dulu. Kau hanya tersenyum kecut dan mencoba bernostalgia. Ada kebahagian tersendiri dalam hidup mu ketika mengingat masa kecil dulu. Entah itu jatuh dari sepeda, bermain kerelereng atau mengejar layang-layang. Jelas semua itu sangat kau rindukan. Masih teringat jelas saat ibu memarahimu ketika kau pulang larut petang saat adzan magrib tengah di kumandangkan. Kerinduan mu kini berpusat pada kawan-kawan lamamu. Benakmu berkata, sudah jadi apa mereka?. Dan bagian buruk dari segala kenangan adalah kita tahu bahwa itu takan bisa di ulang. Lantas di salah satu ruangan di rumahmu, kau hanya berdiam. melihat langit-langit ruangan seraya hati berkata"aku rindu menjadi anak kecil di photo itu".
Baca Juga : Tempat Sampah yang Di Sebut Kelas!

Komentar
Posting Komentar